Gue pernah punya kebiasaan aneh waktu masih sering dinas ke luar kota. Tas gue selalu penuh. Ada laptop, charger, power bank, jaket, sama tiga buku tebal yang niatnya mau gue baca di kereta atau di kamar hotel. Tiga buku itu? Nggak pernah kesentuh. Bahkan sampulnya aja masih cling.
Yang lebih parah, gue selalu bawa alasan yang sama tiap pulang: "Nanti aja belajarnya kalau udah di rumah, biar fokus." Padahal di rumah juga nggak belajar. Capek, katanya. Mau rebahan, katanya. Ujung-ujungnya scroll HP sampai jam dua pagi.
Baca juga: Bisnis Stagnan Gegara Otak Penuh, Ini Cara Belajar 15 Menit buat Pemilik Usaha
Dari situ gue sadar satu hal yang mungkin juga kamu alami: masalahnya bukan nggak ada waktu. Masalahnya, gue menganggap belajar itu harus punya setting yang sempurna. Harus duduk rapi, harus ada meja, harus sunyi, harus punya dua jam penuh. Selama syaratnya belum lengkap, ya nggak mulai-mulai.
Kenapa Belajar Sambil Traveling Sering Gagal
Begitu gue coba bedah, ada beberapa jebakan yang bikin niat belajar di perjalanan selalu kandas. Mungkin kamu bisa relate.
- Bawa terlalu banyak materi. Ini dosa paling umum. Kita pikir bawa banyak buku berarti banyak yang bisa dipelajari. Kenyataannya, makin banyak pilihan, makin bingung mau mulai dari mana. Akhirnya nggak ada yang dibaca.
- Nunggu waktu kosong yang panjang. Kita bayangkan bakal ada satu sore lengang di hotel buat belajar. Padahal di perjalanan, waktu kosong itu datangnya nyicil: 15 menit nunggu boarding, 20 menit di kereta, 10 menit sebelum tidur. Kalau nunggu yang panjang, ya nggak akan pernah datang.
- Nggak punya target yang jelas. "Mau belajar" itu bukan target. Mau belajar apa, sampai mana, kapan selesainya? Kalau nggak spesifik, otak nggak punya alasan buat mulai.
Gue pernah duduk di lobi hotel selama satu jam sambil buka laptop, tapi yang gue lakuin cuma buka email, cek grup kantor, terus tutup lagi. Nol progress. Padahal waktu itu gue bawa materi presentasi yang harusnya bisa gue pelajari dalam 20 menit.
Pelajarannya: Kurangi, Jangan Tambah
Perubahan terbesar yang gue lakuin justru bukan nambah jam belajar. Gue malah ngurangin barang bawaan. Sekarang, tiap pergi, gue cuma bawa satu buku atau satu materi. Titik. Nggak ada pilihan lain.
Efeknya aneh tapi nyata. Karena cuma ada satu pilihan, gue nggak lagi menghabiskan energi buat mikir "mau baca yang mana". Begitu ada waktu kosong, tangan langsung ambil buku itu. Nggak ada drama batin.
Belajar itu soal mengurangi hambatan, bukan menambah semangat. Semangat datang dan pergi. Hambatan yang sedikit itu yang bikin kamu konsisten.
Gue juga mulai pakai prinsip yang gue sebut "satu halaman cukup". Kalau lagi di bandara dan cuma punya lima menit, ya baca satu halaman. Nggak usah maksa satu bab. Yang penting otak tetap nyambung sama materi. Ini jauh lebih efektif daripada nunggu punya waktu satu jam yang entah kapan datangnya.
Teknik "Baca, Tutup, Ceritakan"
Ini teknik simpel yang gue pakai dan lumayan ngebantu banget buat ngukur apakah gue beneran paham atau cuma lewat mata doang. Caranya gampang:
- Baca satu bagian kecil (satu sub-bab atau satu halaman).
- Tutup bukunya.
- Ceritakan ulang isinya pakai bahasa sendiri, entah di kepala atau ditulis di catatan HP.
Kalau gue nggak bisa cerita ulang, berarti gue cuma baca tanpa nyerap. Tinggal balik ke halaman tadi dan ulangi. Teknik ini bisa banget dilakukan di pesawat, di kereta, atau sambil nunggu kopi di kafe. Nggak butuh meja, nggak butuh sunyi.
Yang menarik, gue jadi sadar kalau belajar itu nggak harus selalu pakai buku tebal. Kadang materi yang gue pelajari justru dari podcast yang gue dengerin sambil jalan kaki ke terminal, atau dari artikel pendek yang gue baca di sela-sela transit. Kuncinya tetap sama: satu materi, fokus, terus ceritakan ulang.
Bikin "Jangkar Belajar" di Setiap Perjalanan
Lama-lama gue nemu pola yang lebih rapi. Gue mulai masang apa yang gue sebut jangkar belajar. Jadi, gue nempelin kebiasaan belajar ke aktivitas yang pasti terjadi selama perjalanan. Misalnya:
- Nunggu boarding = baca satu halaman.
- Di dalam pesawat = ceritakan ulang yang udah dibaca tadi.
- Sebelum tidur di hotel = tulis tiga poin penting hari itu di catatan HP.
Karena aktivitas-aktivitas ini pasti ada, gue nggak perlu nyari waktu khusus. Belajarnya nempel otomatis. Ini yang bikin beda sama rencana "nanti kalau udah sempat". Rencana yang nggak nempel ke rutinitas biasanya cuma jadi wacana.
Gue juga belajar buat nggak terlalu ambisius. Dulu gue bikin target "selesai satu buku dalam tiga hari perjalanan". Sekarang target gue lebih sederhana: "paham satu konsep baru per hari." Lebih kecil, lebih realistis, dan yang paling penting, lebih sering tercapai. Rasa tercapai itu yang bikin semangat jalan terus.
Yang Gue Sesali Baru Sadar Sekarang
Kalau ada satu hal yang gue sesali, itu adalah kebiasaan nunggu kondisi sempurna. Bertahun-tahun gue buang waktu karena mikir belajar butuh suasana khusus. Padahal teman-teman gue yang paling cepat berkembang justru orang-orang yang bisa belajar di mana aja: di halte, di antrean, di sela-sela meeting.
Mereka bukan lebih pintar. Mereka cuma nggak nunda. Dan itu bisa dilatih, kok. Mulai dari yang kecil aja. Bawa satu buku, bukan tiga. Baca satu halaman, bukan satu bab. Ceritakan ulang, bukan sekadar lewat.
Jadi, buat kamu yang sering banget di jalan, coba deh mulai minggu ini. Pilih satu materi yang beneran pengin kamu pelajari, masukin ke tas, dan tempelin ke satu aktivitas rutin perjalananmu. Nggak usah nunggu jadwal lengang. Nggak usah nunggu balik ke rumah. Belajarnya bisa mulai dari sekarang, dari hal sekecil satu halaman.
Gue udah buktiin sendiri: yang bikin kita maju bukan waktu luang yang panjang, tapi kebiasaan kecil yang konsisten. Selamat mencoba di perjalanan berikutnya.